BLOG RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 

Nama                            : Mikyal Bulkiah, S.Pd.

CGP ANGKATAN     : 11 Kota Banda Aceh

 

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Pratap Triloka, khususnya prinsip 'ing ngarso sung tuladha', mengajarkan bahwa pemimpin; dalam hal ini guru atau kepala sekolah, harus menjadi contoh yang baik. Tindakan dan keputusan mereka akan sangat berpengaruh pada orang-orang di sekitarnya. Selain itu, prinsip 'ing madya mangun karsa' menekankan pentingnya seorang guru untuk memberikan motivasi dan semangat kepada murid agar mereka bisa berpikir kreatif dan mandiri. Prinsip terakhir, 'tut wuri handayani', menegaskan bahwa guru sebaiknya membimbing murid dari belakang, memberikan dukungan dan arahan saat dibutuhkan, sehingga murid bisa belajar dan berkembang secara optimal

 2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan- pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?

Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya. Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara otomatis

Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya. TIRTA akronim dari :

rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya. TIRTA akronim dari :

T: Tujuan

1: Identifikasi

R: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Setiap murid memiliki cara belajar yang berbeda. Tugas kita sebagai pendidik adalah menciptakan lingkungan belajar yang bisa mengakomodasi semua perbedaan itu. Agar bisa melakukan ini, kita perlu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Kemampuan kita untuk berinteraksi dengan baik dengan murid-murid dan mengelola emosi akan sangat membantu dalam mencapai tujuan ini.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Guru yang benar-benar peduli pada muridnya akan selalu berusaha mencari solusi yang paling tepat untuk setiap masalah yang muncul. Mereka memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi dengan cermat dan membedakan antara masalah etika yang serius dengan masalah yang hanya bersifat godaan. Dengan begitu, mereka dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk murid. Ketika menghadapi masalah moral atau etika, seorang guru akan secara tidak sadar dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai- nilai positif seperti yang dimiliki Guru Penggerak (reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid) akan membimbing gu…

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Agar bisa membuat keputusan yang benar dalam situasi yang melibatkan masalah moral atau etika, kita harus melalui proses yang terdiri dari 9 langkah. Dengan mengikuti langkah-langkah ini secara cermat, kita dapat menganalisis masalah dengan seksama dan mengambil keputusan yang mengakomodasi kepentingan semua pihak yang terlibat. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang positif dan aman bagi semua orang.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Saya sepakat bahwa perubahan ini sulit karena beberapa alasan. Pertama, sistem yang sudah ada terkadang memaksa guru untuk mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan kepentingan murid. Kedua, tidak semua anggota komunitas sekolah memiliki komitmen yang sama terhadap perubahan ini. Ketiga, proses pengambilan keputusan seringkali tidak melibatkan guru secara penuh, sehingga sulit untuk mendapatkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak.

8.Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Menurut saya, kunci dari kemerdekaan belajar murid adalah keputusan yang diambil. Jika keputusan-keputusan yang dibuat, seperti pemilihan metode, media, dan sistem

penilaian, benar-benar mempertimbangkan kebutuhan individu murid, maka murid akan memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan gaya dan kecepatan mereka masing- masing. Sebaliknya, jika keputusan-keputusan tersebut tidak berpihak pada murid, maka konsep kemerdekaan belajar hanya akan menjadi slogan semata dan murid tidak akan bisa berkembang secara optimal.

 9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara mandiri dan mengambil keputusan sendiri, maka murid-murid akan terlatih untuk menjadi individu yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Mereka akan belajar untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan yang bijaksana untuk masa depan mereka. Keputusan yang diambil oleh guru memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap masa depan murid. Keputusan yang tepat, yang didasarkan pada pemahaman mendalam tentang minat, profil belajar, dan kesiapan belajar masing-masing murid, dapat membuka jalan menuju kesuksesan. Sebaliknya, keputusan yang tidak tepat dapat mengh…

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulannya, kemampuan mengambil keputusan adalah hal yang sangat penting bagi seorang guru. Keputusan yang diambil harus sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara dan didukung oleh budaya positif. Dengan menggunakan alur BAGJA, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk mengembangkan profil pelajar Pancasila. Karena dalam perjalanan ini, guru akan sering dihadapkan pada dilema etika. Maka dari itu, sangat penting bagi guru untuk memiliki panduan yang jelas, seperti 9 langkah pengambilan keputusan, untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil selalu berpihak pada kepentingan murid.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Konsep-konsep yang dijelaskan di modul 3.1, seperti dilema etika, berbagai cara berpikir dalam pengambilan keputusan, dan langkah-langkah yang harus diikuti, sudah saya pahami dengan jelas.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?   Pernah, Bedanya saya tidak melalui tahapan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?   Sangat berdampak sekali buat saya dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam peran saya sebagai pemimpin, saya selalu berusaha untuk mengambil keputusan yang tidak hanya tepat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain. Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Sebagai pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan, nilai-nilai kebajikan memegang peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai kebajikan, seperti kejujuran, keadilan, rasa empati, dan tanggung jawab, menjadi landasan dalam setiap tindakan yang diambil oleh pemimpin. Pemimpin yang menjunjung tinggi kejujuran akan selalu berupaya untuk bersikap transparan dan terbuka dalam komunikasi dan tindakan mereka. Kejujuran ini penting untuk membangun kepercayaan antara pemimpin dengan peserta didik, rekan kerja, dan seluruh komunitas pendidikan.

Keadilan adalah nilai kebajikan yang mengharuskan pemimpin untuk bersikap adil dan tidak memihak dalam setiap keputusan yang diambil. Keadilan memastikan bahwa setiap individu diperlakukan dengan cara yang sama, tanpa diskriminasi, dan bahwa hak-hak mereka dihormati. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menghargai keberagaman.

Rasa empati memungkinkan pemimpin untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan empati, pemimpin dapat membuat keputusan yang mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan peserta didik serta rekan kerja. Empati membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif di mana setiap individu merasa dihargai dan didukung. Tanggung jawab adalah nilai kebajikan yang menuntut pemimpin untuk bertanggung jawab atas setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Pemimpin yang bertanggung jawab akan selalu berusaha untuk memenuhi janji mereka, mengambil tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki kesalahan, dan terus belajar untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Tanggung jawab juga melibatkan pemimpin dalam mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan mereka, bukan hanya hasil jangka pendek.

Pemimpin pembelajaran yang berlandaskan kebajikan tidak hanya memikirkan hasil jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap peserta didik, rekan kerja, dan komunitas pendidikan. Keputusan yang diambil harus mencerminkan integritas, yaitu kesesuaian antara apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin. Integritas ini penting untuk menjaga kepercayaan dari semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.

Selain itu, keputusan yang berlandaskan kebajikan harus memupuk lingkungan belajar yang positif dan inklusif. Lingkungan ini adalah tempat di mana setiap individu merasa diterima, didukung, dan diberdayakan untuk mencapai potensi terbaik mereka. Pemimpin yang berlandaskan kebajikan akan selalu berusaha untuk menciptakan budaya belajar yang menghargai kerjasama, inovasi, dan pengembangan pribadi. Dengan demikian, nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, keadilan, rasa empati, dan tanggung jawab menjadi dasar yang kuat bagi pemimpin pembelajaran dalam membuat keputusan yang bermakna dan berkelanjutan. Keputusan tersebut tidak hanya menguntungkan individu dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh untuk kemajuan pendidikan dalam jangka panjang. Semoga bermanfaat.


Comments

Post a Comment